Perilaku kekerasan seksual bisa muncul karena faktor kombinasi. Namun, tidak semua orang yang teridentifikasi berisiko menjadi pelaku kekerasan.
Kombinasi faktor individu, relasional, komunitas, dan masyarakat berkontribusi terhadap risiko menjadi pelaku.
Berikut ini beberapa faktor risiko tumbuhnya perilaku kekerasan seksual pada seseorang:
1. Faktor individu:
- Penggunaan alkohol dan narkoba.
- Kejahatan.
- Kurangnya kepedulian terhadap orang lain.
- Perilaku agresif dan penerimaan perilaku kekerasan.
- Inisiasi seksual dini.
- Fantasi seksual yang memaksa.
- Preferensi terhadap seks impersonal dan pengambilan risiko seksual.
- Paparan media eksplisit secara seksual.
- Permusuhan terhadap wanita.
- Kepatuhan terhadap norma peran gender tradisional.
- Hipermaskulinitas.
- Perilaku bunuh diri.
- Menjadi korban perbuatan seksual sebelumnya.
2. Faktor hubungan:
- Riwayat konflik dan kekerasan dalam keluarga.
- Riwayat masa kecil yang mengalami pelecehan fisik, seksual, atau emosional.
- Lingkungan keluarga yang tidak mendukung secara emosional.
- Hubungan orang tua dan anak yang buruk, khususnya dengan ayah.
- Pergaulan dengan teman sebaya yang agresif secara seksual, hipermaskulin, dan nakal.
- Keterlibatan dalam hubungan intim yang penuh kekerasan atau pelecehan.
3. Faktor masyarakat:
- Kemiskinan.
- Kurangnya kesempatan kerja.
- Kurangnya dukungan kelembagaan dari kepolisian dan sistem peradilan.
- Toleransi umum terhadap pelecehan seksual dalam masyarakat.
- Lemahnya sanksi masyarakat terhadap pelaku pelecehan seksual.
4. Faktor lingkungan kemasyarakatan
- Norma masyarakat yang mendukung pelecehan seksual.
- Norma masyarakat yang mendukung superioritas laki-laki dan hak seksual.
- Norma-norma masyarakat yang mempertahankan inferioritas dan ketundukan seksual perempuan.
- Lemahnya hukum dan kebijakan terkait pelecehan seksual dan kesetaraan gender.
- Tingginya tingkat kejahatan dan bentuk kekerasan lainnya.
