Daftar Pertanyaan dan Jawaban

tanya perkawinan anak

Perkawinan anak adalah pernikahan yang dilakukan di usia anak-anak (menurut UU no. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (batas usia anak-anak adalah dibawah 18 tahun).

Perkawinan Anak banyak memberikan dampak buruk, terutama bagi anak perempuan. Untuk perempuan resiko kematian saat melahirkan lima kali lebih besar, karena secara medis alat reproduksi mereka belum cukup matang untuk melakukan fungsinya.

Revisi Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan telah ditetapkan guna mencegah perkawinan ana dengan menaikkan usia menikah perempuan dengan izin orang tua dari umur 16 tahun menjadi 19 tahun baik untuk perempuan maupun laki-laki.

Penyebab Terjadinya Perkawinan Anak:

  • Budaya
  • Kemiskinan
  • Kurangnya pengetahuan tentang Kespro
  • Penafsiran Agama yang Tidak Kontekstual
  • Pengalihan Tanggung Jawab

Selain dampak ekonomi dan dampak sosial yang akan timbul karena perkawinan usia anak. Dampak pada kesehatan merupakan ancaman terbesar yang perlu disikapi.

  • Kehamilan pada usia anak memiliki resiko tinggi untuk keguguran, dan melahirkan pada usia anak berpotensi menyebabkan kematian (Angka Kematian Ibu masih sangat tinggi di Indonesia)
  • Anak yang dilahirkan dari perempuan usia anak berpotensi besar mengalami stunting. Stunting adalah kondisi di mana anak mengalami kekurangan gizi kronis yang terjadi selama periode awal pertumbuhan di dalam kandungan hingga pada perkembangan anak
  • Perkawinan anak yang memiliki ketimpangan secara ekonomi memiliki potensi terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
  • Menyebabkan gangguan kesehatan mental karena adanya tekanan dari peran sebagai ibu rumah tangga dan orangtua di usia muda. Selain itu, ini juga menyebabkan emosi yang tidak stabil dan kesulitan mengelola diri.
  • Anak yang menikah usia dini terbatas ruang geraknya karena tidak bisa leluasa bergaul dan bersosialisasi dengan teman sebaya karena adanya tanggung jawab dan peran sebagai ibu rumah tangga dan orangtua muda.

Yang Bisa Orang Tua Lakukan

  • Mendukung anak untuk menyelesaikan pendidikan wajib belajar 12 tahun
  • Mencari dan memberikan informasi yang komprehensif terkait kesehatan seksual dan reproduksi kepada anak dan orangtua
  • Mendukung kegiatan anak dalam mengasah kemampuan di luar sekolah agar lebih produktif
  • Melepaskan pola pikir/persepsi bahwa perkawinan anak dapat memperbaiki perekonomian/keluar dari kemiskinan

Dengan mengidentifikasi begitu banyaknya masalah sosial dan politik yang melatarbelakangi terjadinya perkawinan anak, sudah sepantasnya praktik itu dilarang bukan malah dimaklumi.

Jika tetap dibiarkan, masalah-masalah tersebut tidak akan selesai malah akan diperparah dengan adanya masalah-masalah baru yang lain.

Sejumlah penelitian menyimpulkan perkawinan anak adalah sumber dari pelbagai masalah sosial di masyarakat. Paling tidak dijumpai lima dampak buruk perkawinan anak.

1. Perkawinan anak merupakan salah satu penyebab dari tingginya angka perceraian di masyarakat.

Di Indonesia, angka perceraian antara usia 20-24 tahun lebih tinggi pada yang menikah sebelum usia 18 tahun. Hal ini dikarenakan anak-anak tersebut belum matang secara fisik, mental, dan spiritual untuk mengemban tanggung jawab yang diperlukan dalam mempertahankan hubungan perkawinan.

2. Perkawinan anak berdampak buruk pada kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Perkawinan anak memaksa anak putus sekolah dan menjadi pengangguran sehingga menghambat program wajib belajar 12 tahun yang dicanangkan pemerintah. Dengan lebih dari 90% perempuan usia 20-24 tahun yang menikah secara dini tidak lagi bersekolah, tidak heran bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia mengalami penurunan.

3. Perkawinan anak menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Data global menunjukkan bahwa bagi anak perempuan yang menikah sebelum umur 15, kemungkinan mereka mengalami kekerasan dalam rumah tangga meningkat 50%. Selain karena ketimpangan relasi kuasa, para pengantin muda cenderung penuh emosi sehingga gampang emosi.

4. Perkawinan anak menyebabkan berbagai isu kesehatan.

Para pengantin anak memiliki risiko tinggi menghadapi berbagai permasalahan kesehatan. Tingginya AKI (angka kematian ibu) setelah melahirkan disebabkan karena ketidaksiapan fungsi-fungsi reproduksi ibu secara biologis dan psikologis. Anak perempuan berusia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 tahun, sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun.

Selain kesehatan ibu, angka kematian bayi bagi ibu remaja juga lebih tinggi dan 14% bayi yang lahir dari ibu berusia remaja di bawah 17 tahun adalah prematur. Kemungkinan anak-anak tersebut mengalami hambatan pertumbuhan (stunting) selama 2 tahun juga meningkat sebanyak 30%-40%.

Bahkan, pengantin anak memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap HIV/AIDS akibat hubungan seksual dini dan kurangnya pengetahuan mengenai kontrasepsi.

5. Perkawinan anak menghambat agenda-agenda pemerintah.

Perkawinan anak mengancam agenda-agenda pemerintah seperti program Keluarga Berencana (KB) dan Generasi Berencana (Genre) oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Hal ini dikarenakan perkawinan anak bisa menyebabkan ledakan penduduk karena tingginya angka kesuburan remaja Indonesia . Jika angka kelahiran remaja tidak dikendalikan, program pemerintah lain seperti program pengentasan kemiskinan dan wajib belajar 12 tahun akan terbebani.

Untuk memberikan edukasi dan sosialisasi langsung oleh anak kepada orang tua, memang merupakan satu tantangan bagi anak. Agar dapat menyampaikan hal ini dengan baik kepada orang tua, bisa dicoba dengan  diawali melakukan pendekatan dengan orang tua, menciptakan hubungan baik dengan orang tua, sambil perlahan menyampaikan hal-hal terkait kepada orang tua.

Jika dirasa menyampaikan hal ini masih sulit kepada orang tua, bisa dicoba untuk mendekati dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh kunci di masyarakat, sehingga mereka dapat mengerti dan menyampaikan hal ini kepada orang tua-orang. Bisa juga melakukan diskusi atau sosialisasi bagi orang tua yang melibatkan anak muda agar para orangtua mengerti apa yang ingin anak sampaikan.

Load More

Pin It on Pinterest