tanya kespro
Kesehatan seksual itu didefinisikan sebagai keadaan sejahtera secara fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan seksualitas. Itu artinya, kesehatan seksual memerlukan penghargaan terhadap seksualitas seseorang, termasuk dalam hal merasakan kenikmatan seksual dan hubungan seks yang aman tanpa paksaan dan kekerasan.
Jadi apabila kita sudah sehat secara seksual saat kita bisa memilih pasangan seksual sesuai yang kita inginkan, merasakan kenikmatan seksual, dan terbebas dari risiko kehamilan yang tidak direncanakan dan infeksi menular seksual, maupun dari segala paksaan dan kekerasan.
Dalam hal ini, pihak yang banyak dirugikan adalah pihak perempuan.
- Tekanan psikologis (sanksi sosial)
- Putus sekolah
- Keretanan terjadinya gangguan pada kesehatan organ reproduksi
- Perasaan malu hingga depresi
- Sensitif atau mudah marah
- Peningkatan kasus aborsi tidak aman yang mengancam kesehatan akibat terjadinya infeksi yang dapat mengakibatkan peradangan dan risiko kemungkinan terjadinya mandul bahkan kematian
Pendidikan seks dan pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi terhadap remaja adalah HAL YANG PENTING UNTUK DILAKSANAKAN.
Hal ini terkait dengan upaya menurunkan angka kehamilan tidak diinginkan, kematian ibu karena aborsi tidak aman, serta infeksi menular seksual termasuk HIV dan AIDS.
Pemerintah Indonesia sudah mengimplementasikan hal tersebut dalam berbagai program, seperti Kesehatan Reproduksi Remaja (KKR) atau Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) yang sudah dijalankan oleh PUSKESMAS sejak 2003 silam.
Namun kenyataannya perempuan usia 15-19 tahun masih menghadapi banyak masalah dalam mengakses pelayanan ini dibandingkan perempuan yang lebih dewasa. Hal ini umumnya dsebabkan oleh:
- Masih ada anggapan hal yang tabu di Indonesia, di mana perempuan yang belum/tidak menikah, belum pantas mencari pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi
- Belum semua Puskesmas PKPR memberikan pelayanan kepada remaja secara terpisah. Sebagian besar layanan remaja masih digabungkan dengan pelayanan umum, hal ini membuat remaja menjadi canggung dan malu untuk mendapatkan pelayanan. Jam layanan PUSKESMAS masih bertepatan dengan Jam sekolah. Bagi remaja yang masih bersekolah, waktu untuk mengakses bisa menjadi kendala.
Perlu upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan “Ramah Remaja” di tiap penyedia pelayanan PKRE agar dapat menghilangkan stigma terhadap remaja yang mengakses pelayanan.
Sosialisasi yang lebih proaktif bekerjasama dengan lembaga lain seperti NGO dan komunitas remaja untuk menjangkau lebih luas kepada remaja yang membutuhkan pelayanan,
Memperkenalkan seks pada anak dapat dimulai sejak anak menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari anggota tubuh. Saat anak-anak mulai belajar tentang anggota tubuh, seperti mata, telinga, hidung, tangan, kaki, perut, punggung, dll., saat itu juga orangtua mulai mengenalkan penis dan vagina. Mengenalkan penis dan vagina adalah tahapan pertama memperkenalkan seks pada anak. Perkenalkanlah bahwa penis dan vagina adalah bagian dari tubuhnya. Mulailah dari bagian tubuh yang tangible atau terlihat sebelum mulai masuk ke sistem tubuh yang tidak terlihat, seperti sistem pencernaan, pernapasan, dan reproduksi.
Mulai dari mengenal anggota tubuh, anak akan mulai memahami bahwa ada perbedaan antara penis dan vagina. Kemudian berlanjut ke pemahaman fungsi yang paling dekat, seperti laki-laki buang air kecil melalui penis, sementara perempuan melalui vagina.
tanya perkawinan anak
Penyebab Terjadinya Perkawinan Anak:
- Budaya
- Kemiskinan
- Kurangnya pengetahuan tentang Kespro
- Penafsiran Agama yang Tidak Kontekstual
- Pengalihan Tanggung Jawab
