Kegiatan penguatan kapasitas tenaga kesehatan dalam prosedur skrining kanker serviks dan payudara serta vaksinasi HPV sukses digelar pada 25–27 Februari 2026 di kantor Ikatan Bidan Indonesia. Program yang merupakan bagian dari inisiatif AMARA ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Plan Indonesia, YKP, serta Dinas Kesehatan, dengan tujuan meningkatkan kualitas layanan deteksi dini kanker di tingkat fasilitas kesehatan primer.
Pelatihan ini diikuti oleh puluhan tenaga kesehatan yang terdiri dari bidan, perawat, dan dokter dari wilayah Cakung dan Kemayoran, yang selama ini menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan perempuan di masyarakat. Dalam pembukaan pelatihan, Frenia sebagai Ketua YKP menegaskan bahwa peserta pelatihan ini adalah garda terdepan dalam melindungi kesehatan perempuan. Harapannya lebih banyak kasus terdeteksi dan lebih banyak nyawa terselamatkan.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mendapatkan pembekalan materi komprehensif mulai dari skrining dan deteksi dini kanker payudara, strategi pencegahan kanker serviks, hingga teknik konseling yang efektif dan empatik. Tidak hanya teori, pelatihan juga diisi dengan praktik langsung seperti simulasi pemeriksaan SADANIS dan IVA menggunakan alat bantu, role play konseling pasien, serta pelatihan pencatatan dan pelaporan berbasis digital. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan teknis sekaligus kemampuan komunikasi tenaga kesehatan dalam mendorong partisipasi masyarakat untuk melakukan skrining dan vaksinasi HPV secara rutin.
“Skrining dilakukan pada orang yang belum sakit, sementara deteksi dini membantu menemukan penyakit lebih cepat agar peluang sembuh meningkat.”
— dr. Alif Rizky Soeratman, Sp.B.Subsp.Onk (K)
Dalam sesi diskusi dan berbagi pengalaman, peserta mengungkapkan berbagai tantangan di lapangan, terutama terkait rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini. Melalui pelatihan ini, peserta juga diperkenalkan metode pemeriksaan terbaru yang lebih sistematis, seperti teknik “jam 12 ke 12” dalam pemeriksaan payudara, yang dinilai lebih mudah diterapkan.

Selain itu, peserta mendapatkan pemahaman bahwa konseling bersama Ibu Ninuk Widyantoro, seorang Psikolog senior dan Ketua Dewan Pembina YKP. Bu ninuk menekankan bahwa konseling bukan sekadar penyampaian informasi, melainkan proses pemberdayaan pasien agar mampu mengambil keputusan terkait kesehatannya secara mandiri.
“Konseling adalah proses pemberdayaan, bukan sekadar komunikasi. Tujuannya agar pasien mampu mengambil keputusan yang tepat.”
— Ninuk Widyantoro, Psikolog
Program AMARA sendiri tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, tetapi juga memperluas intervensi ke masyarakat melalui edukasi, pelatihan kader, serta pelibatan remaja sebagai pendidik sebaya. Upaya ini bertujuan meningkatkan kesadaran sejak dini terkait kesehatan reproduksi dan pencegahan kanker. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun layanan kesehatan yang lebih ramah, inklusif, dan terintegrasi di tingkat puskesmas.
Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung lancar tanpa hambatan berarti, meskipun terdapat sedikit penyesuaian jadwal narasumber dan kehadiran peserta. Antusiasme peserta terlihat tinggi hingga akhir pelatihan, dengan berbagai pengetahuan baru yang dinilai sangat relevan untuk diterapkan dalam praktik pelayanan sehari-hari. Sebagai tindak lanjut, penyelenggara bersama fasilitator akan melakukan kunjungan lapangan untuk memantau implementasi praktik skrining oleh peserta di masing-masing puskesmas.
Melalui kegiatan ini, diharapkan tenaga kesehatan semakin siap dalam memberikan layanan deteksi dini kanker yang berkualitas, sehingga lebih banyak kasus dapat ditemukan lebih awal dan ditangani secara tepat. Langkah ini menjadi bagian penting dalam upaya menekan angka kanker serviks dan payudara di Indonesia, sekaligus meningkatkan kualitas hidup perempuan secara menyeluruh.

