Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) bersama Plan Indonesia kembali memperkuat kapasitas masyarakat melalui Workshop Penguatan Kapasitas terkait Layanan Ramah Remaja bagi Pendidik Sebaya (Peserta Dewasa) yang diselenggarakan pada 8–10 Juli 2026 di Gedung Sasana Krida Karang Taruna Pulo Gebang, Jakarta Timur. Kegiatan ini menjadi bagian dari Program AMARA yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sensitivitas pendidik sebaya agar mampu mendukung layanan kesehatan yang ramah remaja, inklusif, dan berperspektif kesetaraan gender.
Workshop diikuti oleh 21 peserta perempuan yang berasal dari empat kelurahan di Kecamatan Cakung, yaitu Cakung Barat, Cakung Timur, Jatinegara, dan Pulo Gebang. Selama tiga hari, peserta mendapatkan berbagai materi mulai dari tumbuh kembang remaja, hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR), gender, komunikasi dan konseling remaja, hingga kebijakan pemerintah mengenai layanan kesehatan ramah remaja. Metode pembelajaran dibuat interaktif melalui diskusi kelompok, role play, tanya jawab, pemutaran film, dan permainan edukatif sehingga peserta dapat terlibat aktif dalam setiap sesi.
Dalam sambutannya, perwakilan Plan Indonesia menjelaskan bahwa Program AMARA merupakan kolaborasi bersama YKP dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperluas edukasi kesehatan, termasuk mendorong deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara serta meningkatkan akses layanan kesehatan yang lebih ramah bagi remaja. Peserta juga diajak memahami pentingnya kolaborasi antara tenaga kesehatan, pendidik sebaya, dan masyarakat agar informasi kesehatan dapat menjangkau lebih banyak orang.
Selama pelatihan, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak merefleksikan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat terkait remaja, kesehatan seksual dan reproduksi, serta kesetaraan gender. Diskusi berlangsung hangat dengan berbagai pengalaman peserta yang menunjukkan bahwa setiap individu memiliki latar belakang dan sudut pandang berbeda. Melalui pendekatan yang menghargai perbedaan, fasilitator mendorong peserta untuk menjadi pendidik sebaya yang mampu memberikan informasi tanpa menghakimi dan tetap menghormati hak setiap individu.

Materi mengenai tumbuh kembang remaja juga menjadi salah satu sesi yang paling menarik. Peserta mempelajari perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang dialami remaja, sekaligus mendiskusikan bagaimana orang tua, guru, dan lingkungan dapat menjadi sistem pendukung yang positif. Berbagai simulasi komunikasi dilakukan agar peserta mampu membangun dialog yang lebih terbuka dan aman ketika mendampingi remaja menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Di akhir pelatihan, peserta menyusun rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan hingga awal tahun 2027. Setiap kelompok di tingkat kelurahan akan melakukan kegiatan edukasi masyarakat, workshop lanjutan, serta mendukung pelaksanaan skrining IVA secara berkala sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan masyarakat dan memperluas akses informasi kesehatan reproduksi.
Menariknya, sejumlah peserta mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru selama mengikuti workshop. Beberapa di antaranya baru memahami konsep gender, hak kesehatan seksual dan reproduksi, ragam kekerasan seksual, hingga teknik komunikasi yang efektif dengan remaja. Mereka berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan materi yang semakin beragam untuk mendukung praktik edukasi di masyarakat.
Melalui workshop ini, YKP bersama Plan Indonesia berharap lahir lebih banyak pendidik sebaya yang mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Dengan pengetahuan yang lebih baik tentang kesehatan remaja, kesetaraan gender, dan komunikasi yang empatik, para peserta diharapkan dapat membantu menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang remaja secara optimal.

