Blog

Workshop Layanan Ramah Remaja Perkuat Peran Pendidik Sebaya dalam Mewujudkan Ruang Aman dan Inklusif bagi Remaja

Sebanyak 17 remaja dari lima kelurahan di wilayah Kecamatan Cakung, Jakarta Timur mengikuti Workshop Penguatan Kapasitas terkait Layanan Ramah Remaja bagi Pendidik Sebaya yang diselenggarakan dalam Program AMARA pada 23–25 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Kelurahan Pulo Gebang dan Kantor Kelurahan Jatinegara ini bertujuan memperkuat pengetahuan, keterampilan, serta sensitivitas pendidik sebaya dalam memberikan layanan kesehatan yang ramah remaja, setara, inklusif, dan berperspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). Workshop ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR), pencegahan penyakit tidak menular pada remaja, serta menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang generasi muda.

Selama tiga hari, peserta mendapatkan pembelajaran yang dikemas secara interaktif melalui presentasi, diskusi kelompok, tanya jawab, permainan edukatif, role play, pemutaran film, hingga praktik membuat konten video reels. Pendekatan ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga mampu mengkomunikasikan kembali informasi yang diterima kepada teman sebaya di lingkungan masing-masing.

Berbagai topik penting dibahas dalam workshop, mulai dari tumbuh kembang remaja, kesehatan seksual dan reproduksi, determinan sosial kesehatan, komunikasi dan konseling bagi remaja, layanan ramah remaja, standar layanan, hingga kebijakan pemerintah terkait pelayanan kesehatan bagi remaja. Materi tersebut disampaikan oleh narasumber dari AKAR Indonesia, Universitas Pelita Harapan, Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, dan Yayasan Plan Indonesia.

Hari pertama workshop difokuskan pada pemahaman mengenai masa pubertas dan perkembangan remaja. Peserta diajak memahami bahwa masa remaja bukan hanya ditandai oleh perubahan fisik, tetapi juga perkembangan psikologis, sosial, dan emosional yang membutuhkan dukungan dari keluarga, sekolah, layanan kesehatan, hingga lingkungan sekitar. Melalui diskusi kelompok, peserta juga mengidentifikasi tantangan yang sering dihadapi remaja, seperti rasa tidak percaya diri saat mengalami pubertas, stigma terhadap menstruasi, tekanan sosial, hingga pentingnya membangun ruang aman agar remaja dapat bertanya dan memperoleh informasi yang benar tanpa rasa takut dihakimi.

Sesi berikutnya mengajak peserta merefleksikan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat melalui perspektif GEDSI dan HKSR. Peserta berdiskusi mengenai bagaimana nilai, norma, dan budaya dapat memengaruhi cara pandang terhadap kesehatan reproduksi, kesetaraan gender, maupun pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi ini mendorong peserta untuk lebih terbuka terhadap informasi yang valid, menghargai keberagaman, serta tidak mudah menghakimi pengalaman hidup orang lain.

Pembahasan mengenai gender juga menjadi salah satu sesi yang paling interaktif. Peserta diajak membedakan antara konsep jenis kelamin biologis dan konstruksi sosial mengenai gender melalui berbagai permainan dan diskusi. Aktivitas ini membantu peserta memahami bahwa banyak peran sosial tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kesempatan, kemampuan, dan lingkungan yang mendukung.

Selain meningkatkan pengetahuan, workshop juga mendorong peserta untuk menjadi agen perubahan di komunitasnya. Di akhir kegiatan, peserta bersama fasilitator menyusun rencana tindak lanjut berupa seminar, kegiatan penjangkauan masyarakat, serta pelaksanaan score-carding layanan ramah remaja di berbagai fasilitas kesehatan. Hasil penilaian tersebut diharapkan dapat menjadi masukan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan yang lebih responsif terhadap kebutuhan remaja.

Workshop berlangsung dengan lancar tanpa hambatan berarti. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi selama diskusi, praktik, maupun penyusunan rencana aksi. Harapannya, ilmu yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat diterapkan dan dibagikan kepada teman sebaya sehingga semakin banyak remaja memperoleh akses terhadap informasi kesehatan yang akurat, inklusif, dan menghormati hak setiap individu.