Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) bekerjasama dengan Yayasan Plan Internasional Indonesia (YPII) melalui Program AMARA menyelenggarakan Workshop Penguatan Kapasitas terkait Layanan Ramah Remaja bagi Pendidik Sebaya (Peserta Dewasa) pada 9–11 Juni 2026 di Kantor Kelurahan Kemayoran, Jakarta Pusat. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dan pendidik sebaya agar mampu menghadirkan layanan kesehatan yang lebih ramah, inklusif, setara, dan berperspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) bagi remaja.
Workshop diikuti oleh 21 peserta yang berasal dari empat kelurahan, yakni Kemayoran, Cempaka Baru, Serdang, dan Sumur Batu. Selama tiga hari, peserta memperoleh pembekalan mengenai kesehatan dan hak seksual serta reproduksi (HKSR), kesehatan reproduksi remaja, gender dan seksualitas, determinan sosial kesehatan remaja, komunikasi dan konseling, hingga kebijakan pemerintah terkait layanan ramah remaja. Metode pembelajaran dikemas secara interaktif melalui presentasi, diskusi kelompok, permainan, pemutaran film, hingga praktik role play konseling sehingga peserta tidak hanya memahami materi, tetapi juga berlatih menghadapi situasi yang mungkin ditemui di masyarakat.
Dalam pembukaan kegiatan, berbagai pihak menegaskan pentingnya menghadirkan layanan kesehatan yang mampu menjawab kebutuhan remaja. Lurah Kemayoran menyampaikan apresiasi kepada para kader yang bersedia meningkatkan kapasitasnya demi memberikan informasi kesehatan yang benar kepada remaja. Sementara itu, perwakilan Dinas Kesehatan menekankan pentingnya deteksi dini penyakit tidak menular, termasuk kanker serviks dan kanker payudara, serta berharap para peserta dapat menjadi perpanjangan tangan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan.

YKP juga menegaskan bahwa pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi merupakan bagian dari hak asasi setiap orang. Melalui Program AMARA, YKP bersama para mitra berupaya memastikan remaja memperoleh akses terhadap layanan kesehatan yang aman, berkualitas, bebas stigma, dan tanpa diskriminasi. Pendekatan GEDSI menjadi landasan penting agar setiap remaja, termasuk kelompok rentan, memperoleh kesempatan yang sama dalam mengakses informasi maupun layanan kesehatan.
Salah satu sesi yang mendapat perhatian peserta adalah pembahasan mengenai tumbuh kembang remaja. Materi ini mengajak peserta memahami bahwa masa remaja bukan hanya ditandai oleh perubahan fisik akibat pubertas, tetapi juga perkembangan otak, emosi, dan kemampuan mengambil keputusan. Pemahaman tersebut diharapkan membantu para pendidik sebaya membangun komunikasi yang lebih empatik sehingga mampu mendampingi remaja tanpa menghakimi.
Workshop juga membuka ruang diskusi mengenai gender, seksualitas, dan klarifikasi nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Peserta diajak membedakan antara konsep jenis kelamin biologis dan konstruksi sosial gender, sekaligus mendiskusikan pentingnya menghargai keberagaman pengalaman hidup remaja. Pendekatan yang digunakan menekankan bahwa layanan kesehatan harus berorientasi pada penghormatan terhadap martabat manusia, komunikasi yang terbuka, serta pemberian informasi yang akurat tanpa stigma.

Pada sesi kesehatan reproduksi, peserta memperoleh pengetahuan mengenai pubertas, organ reproduksi, kontrasepsi, pencegahan infeksi menular seksual (IMS), HIV, hingga pentingnya memberikan edukasi kesehatan reproduksi yang benar kepada remaja. Narasumber menekankan bahwa informasi yang tepat sejak dini dapat membantu remaja membuat keputusan yang sehat dan bertanggung jawab, sekaligus mencegah berbagai risiko kesehatan di masa depan.
Sebagai tindak lanjut, setiap kelurahan menyusun rencana aksi untuk mengimplementasikan hasil pelatihan. Rencana tersebut meliputi kegiatan sosialisasi di posyandu, PKK, RPTRA, bank sampah, hingga penyelenggaraan workshop lanjutan dan penjangkauan masyarakat sepanjang tahun 2026. Langkah ini diharapkan memperluas penyebaran informasi mengenai layanan ramah remaja sekaligus memperkuat kolaborasi antara kader, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat.
Workshop berlangsung dengan lancar tanpa hambatan berarti. Bahkan, berdasarkan masukan peserta, narasumber menambahkan materi kesehatan reproduksi yang lebih mendalam sebagai bentuk respons terhadap kebutuhan peserta di lapangan. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas pendidik sebaya merupakan proses yang terus berkembang agar semakin mampu menjawab tantangan kesehatan remaja di masyarakat.


