Pemberitaan aborsi aman di media belum terlalu banyak, isu aborsi muncul jika ada ‘kasus’ yang muncul. Belum lagi judul atau gambar yang digunakkan lebih bertujuan untuk ‘menjual’ berita yang sama sekali tidak memiliki perspektif kemanusiaan dan perempuan. Dengan kata lain lebih cenderung menyalahkan korban/perempuan (blamming victim). Dasar prinsip kemanusiaan ini lah yang coba didorong Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) kepada teman-teman media melalui kegiatan workshop jurnalis “Kesehatan Perempuan di Dalam Media” tanggal 11-12 Februari 2019 yang diikuti 16 jurnalis dari media lokal dan nasional.
Tujuan workshop ini selain membangun sinergi atau mencipatakan hubungan baik, meningkatkan kesadaran dan kepedulian media pada isu pemenuhan hak kesehatan perempuan termasuk aborsi aman bagi korban pemerkosaan sesuai tercantum dalam UU Kesehatan No 36 tahun 2009.
Pendekatan kemanusiaan oleh jurnalis juga diikuti dengan melakukan ‘behind the story’ atau melihat kembali kebelakang/sejarahnya. Sehingga seperti isu aborsi ini tidak dilihat hanya soal ‘hitam atau putihnya saja’ namun dapat menilik penyebabnya yang bukan hanya alasan individu tetapi ternyata juga ada penyebab sistemik. Dari workhop yang dilakukan YKP ini dapat mengidentifikasi tantangan yang muncul selain pemberitaan yang salah tentang aborsi juga tantangan di internal seperti sedang mengerjakan satu isu belum dikaji mendalam sudah dialihkan untuk pemberitaan yang lain. Solusi yang dapat diberikan adalah berelasi dengan wartawan lain yang sedang update menangani isu/kasus tertentu.
Respon peserta merasakan bahwa mereka mendapatkan pemahaman/informasi baru dan sangat penting untuk kebutuhan mereka menuliskan isu kesehatan reproduksi termasuk aborsi. Sehingga diharapkan pemberitaan mereka kedepan terkait isu aborsi dapat menyumbang status kesehatan perempuan yang lebih baik, seperti dikutip “Jurnalis bukan tenaga medis tetapi dapat membantu orang menjadi sehat”. []
Nanda Dwinta Sari