Sebanyak 22 remaja dari enam kelurahan di Jakarta Pusat dan satu kelurahan di Jakarta Barat mengikuti Workshop Penguatan Kapasitas terkait Layanan Ramah Remaja bagi Pendidik Sebaya yang diselenggarakan dalam Program AMARA (Aksi Masyarakat dan Remaja untuk Pencegahan Kanker Serviks dan Payudara) pada 21–23 Juli 2026 di Kantor Kelurahan Cempaka Baru, Kecamatan Kemayoran. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pengetahuan, keterampilan, dan sensitivitas remaja sebagai pendidik sebaya agar mampu memberikan edukasi kesehatan yang ramah remaja, inklusif, serta berperspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI).
Selama tiga hari pelatihan, peserta mendapatkan berbagai materi penting mulai dari tumbuh kembang remaja, kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR), gender, ketidaksetaraan gender, determinan sosial kesehatan remaja, komunikasi dan konseling sebaya, hingga kebijakan pemerintah mengenai layanan kesehatan ramah remaja. Materi disampaikan oleh narasumber dari Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), AKAR Indonesia, Universitas Pelita Harapan (UPH), serta Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat. Workshop juga dikemas secara interaktif melalui diskusi kelompok, role play, pemutaran film, simulasi konseling, hingga praktik membuat konten edukasi digital sehingga peserta dapat belajar secara aktif dan menyenangkan.
Dalam sambutannya, perwakilan YKP menjelaskan bahwa Program AMARA tidak hanya berfokus pada pencegahan kanker serviks dan kanker payudara, tetapi juga memperkuat pemahaman remaja mengenai kesehatan seksual dan reproduksi agar mereka mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Harapannya, ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat diteruskan kepada teman sebaya dan masyarakat sehingga semakin banyak remaja yang mendapatkan akses informasi kesehatan yang benar.
Sementara itu, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat menekankan pentingnya kehadiran konselor sebaya yang mampu berkomunikasi dengan bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan remaja. Kolaborasi antara pemerintah, puskesmas, sekolah, organisasi kepemudaan, dan komunitas dinilai menjadi kunci dalam memperluas jangkauan layanan kesehatan ramah remaja di Jakarta.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah pembahasan mengenai tumbuh kembang remaja bersama Dr. dr. Fransisca Handy, Sp.A. Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami bahwa masa remaja bukan hanya ditandai oleh perubahan fisik akibat pubertas, tetapi juga perubahan psikologis, sosial, dan perkembangan kemampuan berpikir. Diskusi berlangsung sangat hidup karena peserta aktif berbagi pengalaman, mengajukan pertanyaan, hingga berdiskusi mengenai kesehatan reproduksi, kesehatan mental, identitas diri, hubungan pertemanan, serta pentingnya membangun lingkungan yang aman dan saling menghargai.
Selain memperkaya pengetahuan, workshop juga mendorong peserta untuk membangun sikap saling menghormati, tidak menghakimi, serta mampu menerima keberagaman sebagai bagian dari proses pendampingan remaja. Pendekatan tersebut menjadi fondasi penting bagi para pendidik sebaya dalam memberikan informasi maupun dukungan kepada teman-temannya dengan empati dan tanpa stigma.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan. Banyak peserta berharap dapat menambah wawasan mengenai kesehatan reproduksi, meningkatkan kemampuan public speaking, memperluas jaringan pertemanan, hingga menjadi pendidik sebaya yang mampu memberikan dampak positif bagi komunitasnya. Di sisi lain, berbagai kekhawatiran seperti kurang percaya diri, takut tidak mampu menyerap materi, hingga khawatir tidak dapat menyampaikan kembali ilmu yang diperoleh justru menjadi motivasi untuk terus belajar selama pelatihan berlangsung.
Pada akhir kegiatan, peserta bersama fasilitator menyusun rencana tindak lanjut yang akan diwujudkan melalui pelatihan lanjutan, penilaian layanan kesehatan ramah remaja di puskesmas menggunakan metode score-carding, kegiatan edukasi oleh pendidik sebaya di sekolah maupun komunitas, serta penyelenggaraan seminar dan talkshow yang melibatkan para ahli. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat keberlanjutan Program AMARA sekaligus memperluas akses informasi kesehatan bagi remaja di wilayah Kemayoran.
Workshop ditutup dengan evaluasi, post-test, penyusunan rencana tindak lanjut, serta pembagian hadiah kepada peserta. Kegiatan berlangsung lancar tanpa hambatan berarti. Berdasarkan evaluasi, para peserta mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru mengenai pubertas, hak kesehatan seksual dan reproduksi, keberagaman identitas, hingga pentingnya membangun ruang aman bagi seluruh remaja.

