Upaya menghadirkan layanan kesehatan yang lebih aman, nyaman, inklusif, dan tidak menghakimi bagi remaja terus diperkuat. Melalui Program AMARA, sebanyak 16 tenaga kesehatan dari wilayah kerja Kecamatan Cakung dan Kemayoran mengikuti Workshop Penguatan Kapasitas terkait Layanan Ramah Remaja bagi Pendidik Sebaya (Tenaga Kesehatan – Batch 1) pada 28–30 Juli 2026 di Hotel Asyana Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur. Kegiatan ini mempertemukan tenaga kesehatan dari berbagai profesi, mulai dari dokter, bidan, hingga perawat, dengan mayoritas peserta merupakan perawat.
Workshop ini dirancang untuk memperkuat pengetahuan, keterampilan, dan sensitivitas tenaga kesehatan dalam memberikan layanan kesehatan ramah remaja yang setara, inklusif, dan berperspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). Penguatan tersebut juga berkaitan dengan pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR), pencegahan faktor risiko penyakit tidak menular, serta upaya menciptakan lingkungan layanan yang aman dan mendukung bagi remaja.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program AMARA yang berfokus pada upaya antisipasi kanker serviks dan payudara. Dalam pembukaannya, perwakilan Program AMARA, Gizka Ayu, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari penguatan sebelumnya dengan pendekatan yang diawali melalui kelompok remaja dan kader. Harapannya, tenaga kesehatan semakin siap melihat dan memperkuat kapasitas layanan di puskesmas agar remaja merasa aman dan nyaman ketika datang untuk berkonsultasi.
Pesan tentang pentingnya ruang aman bagi remaja juga disampaikan dalam sambutan Ketua PP IBI, Dr. Hj. Ade Jubaedah, S.SiT, Bdn, MM, MKM. Ia menekankan bahwa remaja membutuhkan tempat untuk bertanya dan menyampaikan persoalan tanpa merasa dihakimi. Menurutnya, layanan kesehatan primer dapat menjadi ruang yang aman bagi remaja apabila tenaga kesehatan mampu membangun kepercayaan, mengembangkan komunikasi interpersonal, serta bekerja secara lintas profesi.
Hal senada disampaikan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Dalam sambutannya, dr. Octoviani Carolina, MKM, mendorong agar workshop tidak berhenti sebagai kegiatan peningkatan pengetahuan, tetapi menjadi awal lahirnya layanan yang benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh remaja. Ia juga menyoroti pentingnya penguatan posyandu remaja sebagai salah satu perpanjangan tangan layanan kesehatan di luar gedung puskesmas.

Selama tiga hari, peserta mendapatkan materi yang cukup beragam. Hari pertama diisi dengan pembahasan tumbuh kembang remaja, prinsip layanan kesehatan remaja dan algoritma MTPKR, persiapan skrining psikososial, serta nilai-nilai GEDSI dan HKSR dalam konteks tumbuh kembang remaja. Peserta juga membahas gender dan ketidaksetaraan gender melalui diskusi serta aktivitas kelompok.
Salah satu materi yang mendapat perhatian adalah pemahaman tentang remaja sebagai individu yang masih terus tumbuh dan berkembang. Dalam sesi tumbuh kembang remaja bersama Dr. dr. Fransisca Handy, Sp.A, peserta diajak memahami karakteristik remaja awal usia 10–14 tahun, remaja pertengahan 15–19 tahun, hingga remaja akhir 20–24 tahun. Pembahasan tidak hanya melihat perubahan biologis, tetapi juga perkembangan psikologis dan sosial remaja.
Pemahaman tersebut kemudian diarahkan pada perubahan cara pandang tenaga kesehatan terhadap perilaku remaja. Dalam diskusi, ditekankan bahwa remaja sedang menjalani tugas perkembangan untuk mengenali diri, mencoba hal baru, dan belajar mengambil keputusan. Karena itu, peran orang dewasa bukan sekadar memberikan nasihat, melainkan menciptakan lingkungan yang membantu remaja tetap aman ketika menjalani proses tersebut.
Prinsip tersebut menjadi semakin penting ketika peserta membahas karakteristik layanan kesehatan ramah remaja. Layanan diharapkan mudah diakses dari sisi jarak, administrasi, waktu, dan biaya; menyediakan ruang yang mendukung privasi; serta diberikan secara profesional, adil, efektif, dan tanpa menghakimi. Tenaga kesehatan juga perlu menyesuaikan layanan dengan tahapan perkembangan masing-masing remaja.
Hari kedua berlanjut dengan materi determinan sosial kesehatan remaja, skrining psikososial, serta komunikasi dan konseling bagi remaja. Pada sesi skrining psikososial, peserta mempelajari pentingnya membangun rapport, mengenali faktor risiko dan faktor pelindung, serta menentukan area intervensi dan pencegahan berdasarkan kondisi masing-masing remaja.
Peserta juga berlatih melakukan skrining psikososial melalui role play. Mereka bergantian berperan sebagai tenaga kesehatan, remaja, dan orang tua. Dalam latihan tersebut, peserta mempraktikkan cara meminta orang tua memberikan ruang privat kepada remaja, melakukan informed consent, serta menjelaskan prinsip kerahasiaan medis.
Keterampilan komunikasi menjadi bagian penting dalam latihan tersebut. Tenaga kesehatan didorong untuk menggunakan pertanyaan terbuka, melakukan validasi, menjaga ekspresi dan bahasa tubuh agar tetap menerima, serta menghindari respons yang membuat remaja merasa dihakimi. Umpan balik juga diberikan langsung setelah role play agar peserta dapat mengenali keterampilan yang sudah dikuasai dan hal-hal yang masih perlu dikembangkan.
Memasuki hari ketiga, peserta memperdalam penggunaan MTPKR melalui algoritma kesehatan reproduksi dan kesehatan jiwa. Materi kesehatan jiwa membahas lima masalah kunci yang perlu diidentifikasi dalam layanan remaja, yaitu depresi, kecemasan, psikosis, kekerasan, dan adiksi.
Materi kemudian dipraktikkan melalui studi kasus dan role play layanan secara menyeluruh. Peserta berlatih menggabungkan pemahaman tumbuh kembang, skrining psikososial, algoritma MTPKR, dan konseling perubahan perilaku dalam menghadapi situasi yang mungkin ditemui di layanan kesehatan. Pada sesi konseling, peserta belajar bahwa perubahan perilaku tidak harus dilakukan sekaligus, tetapi dapat dimulai dari perubahan kecil yang realistis bagi remaja.

Menariknya, proses pelatihan juga membuka ruang refleksi bagi peserta mengenai tantangan yang mereka hadapi di layanan sehari-hari. Salah satu peserta mengungkapkan bahwa menentukan fokus konseling tidak selalu mudah ketika remaja datang dengan banyak persoalan sekaligus. Peserta lain juga mengakui bahwa naluri untuk langsung memberikan nasihat masih cukup kuat, padahal dalam konseling tenaga kesehatan perlu lebih banyak mengarahkan dan memberi ruang agar remaja menemukan pilihannya sendiri.
Kegiatan ditutup dengan post-test, evaluasi pelatihan, review materi, kuis, refleksi, serta penyusunan rencana tindak lanjut. Salah satu komitmen yang disepakati adalah kesiapan peserta menerima kedatangan teman remaja yang nantinya akan melakukan penilaian terhadap layanan ramah remaja di puskesmas. Dengan begitu, hasil workshop diharapkan tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi dapat diteruskan melalui praktik dan perbaikan layanan di masing-masing fasilitas kesehatan.
Workshop ini menjadi langkah awal untuk membangun layanan kesehatan yang bukan hanya mampu menangani keluhan kesehatan remaja, tetapi juga mampu mendengarkan, memahami, dan menghargai mereka. Dengan penguatan kapasitas tenaga kesehatan, pendekatan GEDSI dan HKSR, serta kolaborasi lintas profesi, layanan kesehatan diharapkan semakin dekat dengan kebutuhan nyata remaja.
Pada akhirnya, layanan ramah remaja bukan sekadar soal ruang khusus atau prosedur pelayanan, tetapi tentang bagaimana remaja merasa aman untuk datang, didengar ketika bercerita, dihargai privasinya, dan tidak dihakimi ketika membutuhkan bantuan. Itulah semangat yang dibawa dari Workshop Layanan Ramah Remaja Batch 1 ini menuju puskesmas di Cakung dan Kemayoran.

