Uncategorized

Workshop Layanan Ramah Remaja Dorong Tenaga Kesehatan Berikan Pelayanan yang Lebih Responsif

Upaya menghadirkan layanan kesehatan yang lebih ramah, aman, inklusif, dan sesuai kebutuhan remaja terus diperkuat. Salah satunya melalui Workshop Penguatan Kapasitas terkait Layanan Ramah Remaja bagi Pendidik Sebaya (Tenaga Kesehatan – Batch 2) yang digelar pada 4–6 Agustus 2026 di Hotel Asyana Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program AMARA atau Aksi Masyarakat dan Remaja Peduli Kanker Serviks dan Kanker Payudara. Workshop menjadi ruang belajar bersama bagi tenaga kesehatan untuk memperkuat pengetahuan, keterampilan, dan sensitivitas dalam memberikan layanan kesehatan kepada remaja. Pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga memperhatikan hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR), kesetaraan gender, disabilitas, inklusi sosial atau GEDSI, kesehatan jiwa, hingga pencegahan faktor risiko penyakit tidak menular.

Sebanyak 12 tenaga kesehatan dari wilayah kerja Kecamatan Cakung dan Kemayoran mengikuti workshop ini. Mereka berasal dari berbagai profesi, mulai dari dokter, bidan, perawat, tenaga promosi kesehatan, hingga apoteker. Dari jumlah tersebut, tujuh peserta berasal dari Cakung dan lima peserta dari Kemayoran. Selain peserta, kegiatan juga dihadiri oleh narasumber, fasilitator, mahasiswa, staf, serta perwakilan dari AKAR Indonesia, UPH, RS Islam Pondok Kopi, YKP, Yayasan Plan Indonesia, dan teman remaja.

Dalam pembukaan kegiatan, tim AMARA menjelaskan bahwa penguatan kapasitas tenaga kesehatan merupakan bagian dari rangkaian program yang telah berjalan sekitar satu setengah tahun. Program yang awalnya berfokus pada kanker serviks dan kanker payudara kemudian turut memperkuat kapasitas masyarakat dan remaja. Dalam pelaksanaannya, YKP dan Plan Indonesia bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, IBI, dan AKAR Indonesia. Rangkaian penguatan kapasitas ini mencakup empat batch untuk kader dan dua batch untuk tenaga kesehatan.

Memahami Remaja dari Sisi Biologis, Psikologis, dan Sosial

Hari pertama workshop diawali dengan pretest, perkenalan, serta sesi berbagi kekhawatiran dan harapan peserta. Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah bagaimana memastikan pengetahuan yang diperoleh selama workshop benar-benar dapat diterapkan di tempat kerja di tengah padatnya program dan keterbatasan waktu.

Di sisi lain, peserta juga membawa harapan yang kuat. Mereka ingin memperoleh pengetahuan yang aplikatif, mampu membagikan ilmu kepada rekan sejawat dan masyarakat, serta menjadi tenaga kesehatan yang lebih mampu memahami dan mendampingi remaja.

Materi kemudian berlanjut pada pembahasan tumbuh kembang remaja bersama Dr. dr. Fransisca Handy, Sp.A. Peserta diajak memahami bahwa remaja bukan kelompok yang homogen. Perbedaan usia dan tahap perkembangan membuat pendekatan kepada remaja perlu disesuaikan. Pembahasan mencakup perkembangan biologis, psikologis, dan sosial pada remaja awal, tengah, hingga akhir.

Salah satu pesan penting dalam sesi tersebut adalah bahwa remaja masih berada dalam proses tumbuh dan berkembang. Karena itu, perilaku dan kebutuhan mereka tidak bisa dilihat hanya dari sudut pandang orang dewasa. Lingkungan yang aman, dukungan sosial, kesempatan untuk melakukan aktivitas positif, serta hubungan yang suportif menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan remaja.

Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah workshop. Layanan kesehatan yang ramah remaja tidak berhenti pada kemampuan melakukan pemeriksaan medis, tetapi juga bagaimana tenaga kesehatan menciptakan suasana yang membuat remaja merasa aman, diterima, dan tidak dihakimi.

Belajar Skrining Psikososial dan Komunikasi yang Membuat Remaja Nyaman

Salah satu sesi penting dalam workshop adalah skrining psikososial menggunakan pendekatan HEADSS. Peserta belajar bahwa skrining tidak sekadar mengumpulkan informasi, tetapi menjadi bagian dari proses membangun hubungan dengan remaja sekaligus mengenali faktor risiko dan faktor pelindung yang dimiliki.

Dalam sesi ini, tenaga kesehatan berlatih bagaimana memulai percakapan, menjelaskan prosedur, membangun kerahasiaan medis, dan memberikan kesempatan kepada remaja untuk berbicara secara mandiri. Peserta juga melakukan roleplay dengan bergantian menjadi tenaga kesehatan, remaja, dan observer.

Menariknya, peserta diajak memahami bahwa skrining psikososial tidak harus dilakukan dengan menanyakan seluruh aspek sekaligus. Pertanyaan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan remaja. Prinsipnya bukan mengejar kelengkapan pertanyaan, tetapi memastikan pertanyaan yang diberikan tepat dan relevan.

Melalui latihan tersebut, peserta juga menemukan bahwa membangun komunikasi dengan remaja membutuhkan keterampilan. Beberapa peserta menyebut respons singkat, paraphrasing, validasi, dan pertanyaan terbuka sebagai bagian dari teknik yang perlu terus dilatih. Mereka juga menyadari bahwa tidak semua remaja mudah terbuka ketika pertama kali bertemu tenaga kesehatan.

GEDSI dan HKSR Jadi Bagian Penting Layanan Remaja

Workshop juga mengajak peserta merefleksikan nilai-nilai pribadi, gender, ketidaksetaraan gender, GEDSI, serta HKSR dalam konteks tumbuh kembang remaja. Melalui diskusi interaktif, peserta diajak melihat bagaimana pengalaman keluarga, lingkungan, pendidikan, agama, usia, hingga pola pikir dapat membentuk nilai yang dimiliki seseorang.

Pembahasan kemudian diarahkan pada pentingnya memahami bahwa remaja juga memiliki nilai, pengalaman, dan cara pandang sendiri. Dalam memberikan layanan, tenaga kesehatan perlu memahami perspektif tersebut agar komunikasi tidak berubah menjadi penghakiman atau pemaksaan nilai.

Sesi gender juga menjadi ruang refleksi untuk melihat bagaimana label sosial terhadap laki-laki dan perempuan dapat memengaruhi kehidupan remaja. Peserta mendiskusikan berbagai anggapan mengenai peran laki-laki dan perempuan serta bagaimana ketimpangan gender tidak hanya berdampak pada perempuan, tetapi juga dapat memberikan tekanan kepada laki-laki.

Dari Kesehatan Reproduksi hingga Kesehatan Jiwa

Memasuki hari ketiga, peserta memperdalam materi MTPKR – Algoritma Kesehatan Reproduksi, berbagi pengalaman mengenai persoalan kesehatan reproduksi, serta mempelajari MTPKR – Algoritma Kesehatan Jiwa. Sesi dilanjutkan dengan roleplay dan studi kasus layanan secara menyeluruh agar peserta dapat mempraktikkan pengetahuan yang telah diperoleh selama dua hari sebelumnya.

Studi kasus digunakan untuk melihat persoalan remaja secara lebih menyeluruh, termasuk faktor biologis, psikologis, sosial, dan ekonomi. Dalam salah satu diskusi, peserta mengidentifikasi berbagai faktor risiko seperti kurangnya pengetahuan kesehatan reproduksi, komunikasi yang kurang efektif dengan orang tua, kurangnya dukungan, tekanan sosial, bullying, hingga belum adanya kesiapan emosional dan ekonomi.

Dari sini, tenaga kesehatan didorong untuk melihat remaja bukan hanya sebagai pasien dengan keluhan medis, tetapi sebagai individu yang hidup dalam keluarga, sekolah, pertemanan, dan lingkungan sosial tertentu.

Tidak Berhenti di Workshop: Ada Rencana Tindak Lanjut

Tiga hari pelatihan kemudian ditutup dengan post-test, evaluasi, kuis, serta penyusunan rencana tindak lanjut layanan ramah remaja. Peserta menyampaikan berbagai rencana yang dapat dilakukan sesuai dengan kondisi masing-masing tempat kerja.

Beberapa di antaranya adalah mengaktifkan kembali posyandu remaja, menerapkan keterampilan yang diperoleh melalui layanan PKPR, melakukan skrining HEADSS di posyandu remaja, memanfaatkan kegiatan Saka Bakti Husada untuk skrining, menindaklanjuti hasil skrining kesehatan jiwa CKG anak sekolah, hingga mengembangkan skrining melalui Google Form yang dapat dilanjutkan dengan konseling bagi remaja yang membutuhkan.

Ada pula rencana untuk melakukan penjangkauan remaja melalui kegiatan program TB, berkoordinasi dengan pemegang program remaja dan KIA, melakukan skrining di ruang konseling farmasi, serta memanfaatkan data gizi remaja sebagai pintu masuk untuk melakukan skrining.

Namun, peserta juga menyadari bahwa implementasi layanan ramah remaja memiliki tantangan. Salah satunya adalah bagaimana mengumpulkan remaja untuk mengikuti kegiatan posyandu remaja karena mereka memiliki banyak aktivitas, bahkan ketika kegiatan dilakukan di luar jam sekolah.

Tantangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan layanan ramah remaja memang membutuhkan kreativitas dan kolaborasi. Layanan tidak selalu harus menunggu remaja datang ke fasilitas kesehatan, tetapi juga perlu menemukan cara untuk menjangkau mereka melalui sekolah, komunitas, kaderisasi, kegiatan kepemudaan, maupun ruang-ruang lain yang dekat dengan kehidupan remaja.

Membangun Layanan yang Lebih Dekat dengan Remaja

Pada akhir kegiatan, peserta memberikan respons positif terhadap workshop. Salah satu peserta menyampaikan bahwa kegiatan tersebut membantu tenaga kesehatan menemukan cara untuk membuat remaja lebih terbuka dan menggali persoalan mereka secara perlahan.

Peserta lainnya menilai materi yang diberikan sangat melengkapi kapasitas tenaga kesehatan, meskipun keterbatasan sumber daya manusia menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, muncul usulan agar pelatihan serupa dapat diperluas kepada tenaga kesehatan lain yang telah mendapatkan pelatihan. Peserta juga berharap pembahasan kesehatan reproduksi remaja laki-laki dapat diperkuat dalam kegiatan berikutnya.

Lebih dari sekadar kegiatan peningkatan kapasitas, workshop ini menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman tenaga kesehatan, pendidik, organisasi, mahasiswa, dan remaja. Ke depan, hasil pembelajaran diharapkan dapat diterjemahkan menjadi layanan yang lebih mudah dijangkau, lebih terbuka, serta mampu menjawab kebutuhan remaja secara utuh.

Rencana tindak lanjut juga mencakup keterlibatan remaja dalam melakukan score carding layanan remaja di puskesmas dan rencana mempertemukan perspektif ibu, remaja, dan tenaga kesehatan dalam kegiatan lanjutan. Dengan begitu, penguatan layanan ramah remaja tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi dapat terus berkembang menjadi praktik bersama di lapangan.

Pada akhirnya, layanan kesehatan yang ramah remaja bukan hanya tentang tersedianya ruang khusus atau prosedur tertentu. Lebih jauh, layanan tersebut membutuhkan tenaga kesehatan yang mau mendengar, memahami, menghargai keragaman, menjaga kerahasiaan, dan memberikan ruang aman bagi remaja untuk menyampaikan kebutuhan mereka.

Karena ketika remaja merasa aman untuk datang, berbicara, dan dipercaya, layanan kesehatan bukan lagi sekadar tempat untuk mengobati keluhan, tetapi juga menjadi ruang penting untuk mendukung mereka tumbuh sehat, berdaya, dan mampu mengambil keputusan yang lebih baik untuk dirinya.