Blog

Tenaga Medis Bahas Skrining Kanker Serviks, Payudara, dan Vaksinasi HPV Lewat FGD

Suasana diskusi yang hangat dan penuh semangat mewarnai kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan asesmen mandiri yang digelar pada Senin, 22 Desember 2025 di Kantor Pusat Ikatan Bidan Indonesia. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari program AMARA (Aksi Masyarakat dan Remaja untuk Antisipasi Risiko Kanker Serviks dan Payudara), hasil kolaborasi antara Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) dan Yayasan Plan Indonesia. Fokus utamanya adalah memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam prosedur skrining kanker serviks dan payudara, sekaligus mendorong peningkatan cakupan vaksinasi HPV.

Sejak awal acara, para peserta yang terdiri dari tenaga kesehatan dari 10 puskesmas di wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Timur menunjukkan antusiasme tinggi. Penyelenggara yaitu YKP dan Plan Indonesia menyampaikan apresiasi atas kehadiran para tenaga kesehatan di tengah padatnya aktivitas akhir tahun.

Asesmen ini dirancang untuk menggali kondisi nyata layanan kesehatan di lapangan, mulai dari kualitas layanan, keselamatan pasien, hingga aspek inklusivitas dan komunikasi. Data yang dikumpulkan bersifat anonim, sehingga peserta dapat memberikan jawaban secara jujur dan objektif.

“Hasil dari asesmen dan FGD ini akan menjadi dasar untuk merancang penguatan kapasitas tenaga kesehatan ke depannya, khususnya untuk melaksanakan program AMARA. Program AMARA sendiri hadir dengan tiga tujuan utama, yakni meningkatkan kesadaran masyarakat, memperkuat layanan kesehatan, dan mendorong peningkatan cakupan skrining kanker. Zuniatmi dari Yayasan Plan Indonesia menjelaskan bahwa pendekatan program ini dilakukan secara menyeluruh, termasuk melalui pelatihan kader dan pendidik sebaya di masyarakat.

Diskusi kelompok menjadi bagian paling dinamis dalam kegiatan ini. Para tenaga kesehatan berbagi pengalaman langsung terkait tantangan di lapangan. Salah satu isu utama yang muncul adalah rendahnya minat masyarakat untuk melakukan skrining, bukan karena takut tindakan medis, melainkan karena kekhawatiran terhadap hasil pemeriksaan.

Selain itu, stigma sosial juga masih menjadi hambatan besar, terutama dalam skrining kanker serviks. Tenaga kesehatan mengakui bahwa edukasi yang berkelanjutan dan pendekatan komunikasi yang tepat menjadi kunci untuk mengubah persepsi masyarakat. “Mengubah nilai di masyarakat membutuhkan proses dan perjuangan,” kata dr. Ary Waluyo, SpOG (K), MARS sebagai fasilitator diskusi.

Dari sisi layanan, para peserta juga menyoroti kebutuhan peningkatan kapasitas, terutama dalam hal komunikasi efektif, pembaruan pengetahuan medis, serta pemerataan pelatihan bagi tenaga kesehatan. Mereka berharap adanya sistem pelatihan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. “Kami butuh penguatan komunikasi agar lebih percaya diri dan bisa meyakinkan pasien,” ujar salah satu peserta.

Kegiatan ini ditutup dengan harapan besar bahwa hasil asesmen dan FGD dapat menjadi pijakan kuat dalam merancang program penguatan layanan kesehatan yang lebih tepat sasaran. Penyelenggara menegaskan bahwa proses ini bukanlah akhir, melainkan awal dari rangkaian program jangka panjang.

Melalui kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan aktif tenaga kesehatan, program AMARA diharapkan mampu memberikan dampak nyata dalam meningkatkan kualitas layanan serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker. Dengan pendekatan yang lebih inklusif dan berbasis kebutuhan lapangan, upaya pencegahan kanker di Indonesia semakin memiliki harapan yang lebih kuat ke depan.