Kota Semarang menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan Pelatihan Advokasi dan Pemberdayaan Komunitas yang pertama dalam rangkaian pelatihan advokasi dalam Program SINTESIS. Pelatihan ini berlangsung selama tiga hari, pada 18–20 Desember 2025. Kegiatan ini diikuti oleh 20 perwakilan masyarakat, mulai dari kader, relawan, hingga organisasi masyarakat sipil. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peserta dalam memahami isu stunting, kesehatan reproduksi, serta memperkuat kemampuan advokasi berbasis bukti guna mendorong perubahan kebijakan dan perilaku di tingkat komunitas.
Advokasi memiliki peran strategis dalam menjembatani kesenjangan antara kebijakan pemerintah pusat dan implementasi di tingkat daerah. Advokasi yang efektif akan mendorong peningkatan alokasi sumber daya, memperkuat komitmen politik, dan mengubah perilaku sosial yang menjadi akar permasalahan.
Kegiatan pelatihan dibuka oleh Kepala Bidang Penyuluhan dan Penggerakan Disdalduk KB Kota Semarang, Yuli Kurniasih Purwanti, yang mengapresiasi inisiatif Program SINTESIS dalam meningkatkan kapasitas masyarakat. Dalam sambutannya, ia berharap pelatihan ini dapat memperluas wawasan kader serta mendukung terwujudnya kesehatan perempuan dan anak di wilayah Semarang.
Selama hari pertama, peserta mendapatkan pemahaman dasar terkait stunting, gizi, serta pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai periode krusial dalam tumbuh kembang anak. Materi disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Sri Achadi Nugraheni, M.Kes, yang juga memberikan praktik langsung pengukuran status gizi anak. Selain itu, peserta diajak memahami kesehatan reproduksi sebagai bagian penting dalam pencegahan stunting, meskipun topik ini sempat dianggap tabu oleh sebagian peserta.

Memasuki hari kedua, pelatihan berfokus pada isu gender, determinan kesehatan, serta pemaparan hasil penelitian SINTESIS yang menjadi dasar penyusunan strategi advokasi. Peserta juga dikenalkan pada pemanfaatan teknologi digital sebagai alat pendukung kampanye dan intervensi stunting. Diskusi berlangsung aktif, terutama saat peserta memetakan isu strategis menggunakan pendekatan analisis masalah berbasis data.
Pada hari ketiga, peserta difokuskan pada penyusunan strategi advokasi dan rencana tindak lanjut. Mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok yang mengangkat isu seperti pemanfaatan aplikasi digital, pemberdayaan kader, peningkatan akses informasi, hingga penguatan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor. Hasilnya, peserta berhasil menyusun master plan advokasi sebagai langkah konkret pencegahan stunting di tingkat lokal.
Ppelatihan ini juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan waktu, perbedaan latar belakang peserta, serta masih adanya stigma terhadap isu kesehatan reproduksi. Namun, pendekatan partisipatif dan inklusif yang diterapkan mampu menjaga efektivitas proses pembelajaran.
Secara keseluruhan, pelatihan ini dinilai berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam advokasi serta mendorong lahirnya rencana aksi nyata di masyarakat. Program SINTESIS diharapkan dapat terus memperkuat jejaring komunitas dan mempercepat upaya penurunan angka stunting di Indonesia melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis bukti.

