Artikel

Hari HAM Sedunia: Menempatkan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi sebagai Hak Dasar.

Setiap tahun, Hari Hak Asasi Manusia pada 10 Desember menjadi momen penting untuk merefleksikan betapa hak-hak dasar manusia bukanlah sesuatu yang mewah atau jauh dari keseharian kita. Untuk tahun 2025, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusung tema “Human Rights, Our Everyday Essentials” atau dalam bahasa Indonesia, “Hak Asasi Manusia, Kebutuhan Esensial Kita Sehari-hari”. Tema ini ingin mengingatkan kita bahwa hak asasi manusia (HAM) adalah seperti udara yang kita hirup setiap hari—esensial untuk kehidupan yang bermartabat, aman, dan bahagia. Bukan konsep abstrak di buku-buku hukum, tapi bagian integral dari rutinitas kita sehari-hari

Tema ini sangat selaras dengan isu hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR), yang diakui sebagai hak asasi manusia mendasar. HKSR mencakup hak setiap orang untuk mengakses informasi, layanan kesehatan, dan membuat keputusan bebas tentang tubuh serta kehidupan reproduksinya, tanpa diskriminasi atau paksaan. Ini termasuk akses terhadap kontrasepsi, pendidikan seksual, aborsi aman, dan perlindungan dari penyakit menular seksual. Mengapa selaras? Karena HKSR bukanlah “tambahan” dalam hidup, melainkan kebutuhan esensial yang mempengaruhi kesehatan fisik, mental, dan sosial kita setiap hari. Bayangkan saja: tanpa hak ini, seseorang bisa terjebak dalam siklus kemiskinan, ketidaksetaraan, atau bahkan bahaya nyawa.

Lebih khusus lagi, tema 2025 ini sangat relevan dengan kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan (16 HAKTP), yaitu hak untuk bebas dari kekerasan terhadap perempuan, yang merupakan pilar utama dalam HKSR. Kekerasan—baik fisik, seksual, maupun emosional—sering kali menjadi penghalang terbesar bagi perempuan untuk mengakses layanan kesehatan reproduksi. Misalnya, seorang perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga mungkin takut mencari bantuan medis untuk kehamilan yang tidak diinginkan, atau bahkan dicegah untuk menggunakan alat kontrasepsi. Di sini, HAM sebagai “everyday essentials” berarti bebas dari kekerasan bukanlah pilihan, tapi hak dasar yang harus dilindungi setiap saat, agar perempuan bisa hidup dengan penuh martabat.

Prinsip-prinsip internasional seperti Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UDHR) menjadi fondasi HKSR, yang menekankan hak atas integritas tubuh, privasi, dan kesetaraan gender. Konferensi Internasional tentang Populasi dan Pembangunan tahun 1994, misalnya, secara eksplisit menghubungkan kekerasan terhadap perempuan dengan hak reproduksi, menyatakan bahwa menghapus kekerasan adalah kunci untuk mencapai kesetaraan gender dan kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks sehari-hari, tema 2025 mendorong kita untuk melihat bagaimana bebas dari kekerasan memungkinkan perempuan mengakses pendidikan, pekerjaan, dan layanan kesehatan tanpa rasa takut. Ini bukan hanya soal individu, tapi juga masyarakat secara keseluruhan—karena ketika perempuan aman, keluarga dan komunitas pun lebih kuat.

Selain itu, HKSR sebagai hak manusia membantu mengatasi ketidaksetaraan sistemik. Kekerasan terhadap perempuan sering kali bersifat struktural, seperti dalam bentuk diskriminasi hukum atau norma budaya yang membatasi akses mereka terhadap hak-hak dasar. Dengan menjadikan HAM sebagai kebutuhan esensial sehari-hari, tema ini memperkuat advokasi untuk kebijakan nyata: mulai dari layanan dukungan bagi korban kekerasan, pendidikan seksual komprehensif di sekolah, hingga hukum yang melindungi perempuan dari pelecehan digital atau kekerasan berbasis gender. Bukti menunjukkan bahwa investasi dalam HKSR bisa menyelamatkan nyawa, meningkatkan kesejahteraan, dan mempromosikan kesetaraan—seperti yang ditegaskan dalam komitmen global untuk mempercepat kemajuan HKSR.

Pada akhirnya, tema Hari HAM Internasional 2025 mengajak kita semua untuk bertindak. Mari jadikan hak bebas dari kekerasan sebagai prioritas sehari-hari, bukan hanya slogan. Dengan mendukung organisasi seperti UNFPA atau OHCHR, kita bisa berkontribusi membangun dunia di mana HKSR benar-benar menjadi esensial bagi setiap orang, terutama perempuan. Karena hak asasi manusia bukan milik segelintir orang—itu hak kita semua, setiap hari.

Referensi:

  1. https://www.unfpa.org/human-rights
  2. https://pmnch.who.int/our-work/focus-areas/sexual-and-reproductive-health-and-rights/human-rights-violence-against-women
  3. https://www.rrc.ca/diversity/news/
  4. https://www.who.int/health-topics/sexual-and-reproductive-health-and-rights
  5. https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1016/j.ijgo.2009.03.053
  6. https://reproductiverights.org/wp-content/uploads/2018/08/V4Repro-Rights-Are-Human-Rights-FINAL.pdf
  7. https://www.komnasham.go.id/index.php/news/2024/3/28/2498/peringatan-hari-perempuan-internasional-memerangi-kekerasan-seksual-bersama-komnas-ham-indonesia.html
  8. https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/siaran-pers-komnas-perempuan-peringatan-hari-hak-asasi-manusia-sedunia
  9. https://www.unwomen.org/en/what-we-do/ending-violence-against-women/global-norms-and-standards
  10. https://www.ohchr.org/en/women/sexual-and-reproductive-health-and-rights
  11. https://www.guttmacher.org/guttmacher-lancet-commission/accelerate-progress-executive-summary