Artikel

Pelayanan Kesehatan Reproduksi bagi Laki-laki Masih Diabaikan?

Kenyataan yang ada saat ini, ketika kita berbicara seputar kesehatan reproduksi (Kespro) maka kebanyakan yang muncul Kespro pada perempuan dan tidak banyak yang mengangkat Kespro pada laki-laki, kalaupun ada kebanyakan mengangkat perbedaan aspek biologis antara perempuan dan laki-laki, dimana perbedaan biologis bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi perkembangan perilaku yang khas laki-laki atau khas perempuan. Aspek Kespro tidak cukup dalam lingkup biologis saja, aspek kebijakan, perilaku, peran dan lingkungan yang mendukung menjadi aspek penting dalam Kespro seseorang termasuk laki-laki termasuk keterlibatan laki-laki dalam mendukung pemenuhan HKSR di keluarga dan komunitas mereka. 

Secara definisi, Kespro adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial secara utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi seseorang termasuk laki-laki. Namun disayangkan banyak laki-laki yang menganggap masalah reproduksi hanya urusan perempuan, sehingga partisipasi laki-laki dalam pelayanan Kespro, penggunaan alat kontrasepsi, pencegahan infeksi menular seksual (IMS), skrining kesehatan reproduktif, sunat untuk mencegah risiko gangguan kesehatan termasuk kurangnya informasi dan motivasi juga menjadi kendala utama. 

Pentingnya Menjaga Kesehatan Reproduksi Pria

  • Mendukung kesuburan dan peluang memiliki keturunan: Gangguan pada sistem reproduksi pria berkontribusi pada sekitar 40-70% kasus infertilitas pasangan di dunia, terutama akibat penurunan jumlah, kualitas, dan bentuk sperma.
  • Mencegah penyakit menular seksual (PMS) dan komplikasinya: Pria yang menjaga kesehatan reproduksi dapat menurunkan risiko terkena dan menularkan PMS, termasuk HIV/AIDS. 
  • Penggunaan kontrasepsi…..
  • Meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan secara umum: Organ reproduksi yang sehat berperan dalam kesehatan fisik dan mental pria secara keseluruhan. 

Sayangnya, hal penting dalam pemenuhan Kespro laki-laki terkendala rendahnya pemahaman, laki-laki tidak terbuka bahkan enggan mencari tau hal-hal terkait Kespro pada dirinya, karena tingginya stigma, diskriminasi dan ketatnya kebijakan, menghambat akses ke informasi dan layanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi. Ini menyebabkan banyak laki-laki, terutama remaja, bergantung pada mitos dan informasi yang beredar di media khususnya pada media sosial. 

Kebijakan terkait Kespro,

  • Kebijakan HKSR pada laki-laki berfokus pada pengakuan dan penanganan kebutuhan kesehatan seksual dan reproduksi laki-laki  dan remaja laki-laki, tidak hanya sebagai individu tetapi juga sebagai mitra, pengasuh, dan agen perubahan dalam mempromosikan kesetaraan gender dan meningkatkan hasil kesehatan untuk semua.
  • Layanan ini menyatu dengan Program Kesehatan Reproduksi Terpadu (PKRT) menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2014 yang mengedepankan pendekatan menyeluruh dari siklus hidup individu mulai dari masa remaja sampai geriatri, mencakup upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif baik pada laki-laki dan perempuan. 
  • UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menegaskan bahwa setiap individu, termasuk laki-laki, memiliki hak atas akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang aman dan terjangkau. 
  • Meski demikian, implementasi kebijakan ini masih menghadapi hambatan, seperti kurangnya koordinasi lintas sektor, sensitivitas budaya yang membatasi pembahasan isu ini secara terbuka, serta pemahaman aparat penegak hukum yang masih terbatas mengenai pentingnya layanan kesehatan reproduksi untuk laki-laki

Kebijakan terkait Kespro pada laki-laki, idealnya tidak hanya menggambarkan peran laki-laki dalam mendukung otonomi serta pilihan perempuan akan pemenuhan HKSR nya, yang mana pada kebijakan yang ada saat ini peran laki-laki justru sebagai pembuat keputusan utama atas diri perempuan sebagai pemilik tubuh, sehingga 

Infrastruktur & Data

  • Infrastruktur layanan kesehatan reproduksi pria di Indonesia saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan meskipun telah tersedia fasilitas dan program yang mendukung. 
  • Layanan kesehatan reproduksi pria tersedia di rumah sakit dan puskesmas, termasuk pemeriksaan fisik, analisis semen, konsultasi andrologi, serta tindakan medis seperti operasi varikokel dan teknologi reproduksi berbantu (inseminasi intrauterin, fertilisasi in vitro) termasuk persiapan pra nikah dan situasi tanggap darurat bencana. 
  • Keterbatasan di Daerah Pedesaan: Sebuah penelitian dari Universitas Airlangga (2021) menemukan bahwa laki-laki di daerah perkotaan memiliki akses ke layanan kesehatan reproduksi 2,23 kali lebih banyak daripada laki-laki di daerah pedesaan. Di daerah terpencil, fasilitas kesehatan sering kekurangan tenaga medis terlatih serta peralatan yang dibutuhkan untuk menangani isu kesehatan reproduksi laki-laki secara tepat. 
  • Sikap petugas kesehatan yang kurang ramah atau menghakimi juga menjadi penghambat signifikan bagi remaja laki-laki untuk mengakses layanan Kespro
  • Selain itu, minimnya data spesifik tentang akses dan tingkat kesadaran laki-laki terhadap layanan ini menunjukkan rendahnya perhatian dan investasi dalam bidang tersebut. Kurangnya data ini juga menyulitkan perumusan kebijakan yang berbasis bukti dan responsif terhadap kebutuhan laki-laki dalam aspek kesehatan reproduksi.

Akses ke Pelayanan Kespro

  • Penggunaan Layanan: Menurut data PKBI (2010–2013), banyak laki-laki mendapatkan layanan kesehatan reproduksi setelah mengalami masalah seperti IMS atau kehamilan pranikah. 
  • Akses Kontrasepsi: Meskipun kondom laki-laki cukup mudah ditemukan di apotek dan minimarket, mereka sering kali tidak menggunakan layanan konseling kontrasepsi di fasilitas kesehatan karena kurangnya kesadaran atau rasa malu.
  • Faktor-faktor seperti lokasi terpencil, kemiskinan, dan pendidikan rendah juga menjadi penghambat laki-laki ke layanan Kespro. 
  • Tingkat pengetahuan remaja laki-laki tentang kesehatan reproduksi dan keberadaan layanan masih rendah; hanya sekitar 33% remaja pria mengetahui tempat diskusi kesehatan reproduksi dan bahkan lebih sedikit yang pernah mengakses layanan tersebut. 

Faktor Sosial, Ekonomi & Budaya

  • Stigma dan regulasi ketat, menghambat akses ke informasi dan layanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi.
  • Fokus pada Perempuan: Kebijakan kesehatan reproduksi di Indonesia cenderung berfokus pada perempuan, seperti kesehatan ibu dan anak, sehingga kesadaran tentang kesehatan reproduksi laki-laki sering terabaikan. Hal ini diperparah oleh stigma sosial yang menganggap pembicaraan tentang kesehatan reproduksi laki-laki sebagai hal sensitif atau tabu.
  • Stigma sosial dan norma budaya yang menganggap pembicaraan tentang kesehatan reproduksi laki-laki sebagai hal tabu, terutama di kalangan remaja. Hal ini membuat edukasi menjadi sulit dan menghambat keterbukaan dalam mencari layanan. Selain itu, ketimpangan gender dalam kebijakan kesehatan reproduksi membuat perhatian lebih besar diberikan kepada perempuan, sementara kebutuhan laki-laki sering terabaikan. 
  • Tingkat pendidikan dan ekonomi: Pengetahuan dan akses terhadap layanan kesehatan reproduksi sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan kondisi ekonomi
  • Faktor budaya dan lingkungan sosial: Norma, kepercayaan, dan dukungan lingkungan dapat mempengaruhi perilaku dan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi
  • Faktor psikologis: stres, kepercayaan diri rendah, atau trauma psikologis juga dapat berdampak pada fungsi seksual dan reproduksi. 

Walau tantangan terasa berat, namun inisiatif upaya untuk meningkatkan kesadaran dan akses pelayanan kesehatan reproduksi laki-laki harus terus dilakukan, seperti yang selalu dilakukan oleh Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) yaitu terus mendorong program edukasi terkait isu hak kesehatan seksual dan reproduksi baik di tingkat sekolah dan komunitas. Hal ini menjadi langkah penting untuk mengenalkan remaja terutama laki-laki untuk paham pada isu kesehatan reproduksi, seperti kesetaran gender, perawatan organ reproduksi dan pencegahan kehamilan tidak diinginkan (KTD) dan infeksi menular seksual (IMS). 

Peran Laki-laki dalam Kesehatan Reproduksi

Selain menjaga kesehatan diri sendiri, laki-laki juga berperan penting dalam mendukung kesehatan reproduksi pasangan dan keluarga, seperti:

  1. Terlibat aktif dalam program keluarga berencana, misalnya dengan menggunakan kontrasepsi pria (kondom, vasektomi)
  2. Mendampingi pasangan dalam pemeriksaan dan pengambilan keputusan terkait kesehatan reproduksi.
  3. Meningkatkan literasi dan kesadaran tentang pentingnya kespro melalui edukasi dan diskusi di komunitas. 

Kespro laki-laki sangat penting untuk mendukung kesehatan pribadi, pasangan, dan keluarga. Upaya menjaga kesehatan reproduksi harus dilakukan secara sadar dan konsisten melalui gaya hidup sehat, perilaku seksual yang aman, serta pemeriksaan medis rutin. Keterlibatan aktif laki-laki dalam isu kespro juga sangat dibutuhkan untuk menciptakan keluarga dan masyarakat yang sehat

Penulis: Ahmad Fauzi & Nanda Dwinta Sari